Minggu, 23 November 2014

Miss


Nggak tau kenapa, tiba-tiba pengen ngepost tentang ini. kangen banget sama mereka, kangen ngelakuin sesuatu yang gila kayak dulu. Tapi yah.. lagi sibuk semua ya?

Jumat, 21 November 2014

TERER LIYE

Entah mengapa Tere Liye selalu punya cerita yang berbeda, Kadang aku agak takut membaca novelnya karena aku pasti salah menebak alur cerita. Tidak banyak Novel karyanya yang telah kubaca, hanya sebagian kecil dari karya-karyanya. Hanya membaca 4 novelnya.

Bumi, itu judul novel karya Tere Liye pertama yang aku baca, dengan saran dari seorang sepupuku yang telah lebih dulu menjadi penggemar novelnya. Novel ini ber-genre Fantasy, salah satu genre favoritku. Jadi aku tidak terkira rasa senangnya ketika berhasil menemukan buku ini di sebuah rumah peminjaman novel. Waktu itu aku belum terlalu ngeh sama penulisnya. Novel Fantasy terbaik yang pernah aku baca, yanh.. walaupun agak berat memang, karna novelnya tebel banget. Ceritanya juga seru, nggak gampang ditebak, dan membuatku nggak mau berhenti membalik halaman-halamanya, Kabar baiknya ini novel serries, jadi bakal ada kelanjutanya. Keren banget :) :)



Negeri diujung Tanduk, sebenarnya ini seri keduanya, seri pertamanya judulnya Negeri Para Bedebah. Aku menemukan novel ini di perpus sekolah, sebuah novel pemberian kakak-kakak kelas. Genrenya beda sama Bumi, Novel ini kayak genre action, ekonomi politik gitu. Ini juga keren sanggatt, perjalanan Thomas si konsultan keuangan bener-bener ngebuat gila karna nggak tahan sama penulis yang ngebuatnya penuh rahasia. Tragisnya, buku ini banyak mengingatkanku tentang negaraku Indonesia. Tentang baik buruknya negri ku. Ada disuatu bagian yang sampai membuatku meneteskan air mata, karena teringat negriku sendiri. Bagi yang sudah membaca pasti mengerti maksudkuku. Thomas bukan orang baik, itulah toko utamanya, tapi dia juga bukan orang jahat. See, setiap orang punya gelap terangnya sendiri. Nah, waktu baca novel ini aku baru ngeh kalau Tere Liye itu penulis yang pinter banget, bayangkan dia pernah nulis novel fantasi sekeren Bumi, lalu menulis novel negri diujung tanduk yang memuat konsep-konsep ekonomi politik, krisis ekonomi global, intrik politik yang membuatku memeras otak jika membacanya, dll. Lalu a
ku inggat kalau novel hafalan surat delisa itu ternyata kayanya juga, aku memamang nggak membaca novelnya tapi aku sudah liat filmnya yang menyedihkan tapi juga memotivasi itu. Bidadari-bidadari surga teryata juga karyanya. Kurang hebat apa coba, genrenya beda-beda dan sama-sama bagus.



Negeri Para Bedebah, setelah membaca yang kedua, akhirnya aku menemukan yang pertama di perpus sekolah juga, novel ini lebih tebal dari seri keduanya. Karna aku telah membaca yang kedua, jadi sedikit banyak aku sudah tau tentang rahasia-rahasia Thomas. Buku ini lebih berat menerutku karna teori ekonominya terasa banget, apa lagi krisi uang, perekonomian global, imperium bisnis, dll. Lagi-lagi aku teringat negeriku ketika membaca novel ini. Entah mengapa Tere Liye bisa membuat novel berat kayak gini.



Sepotong Hati yang Baru, sebuah kumcer sebenarnya. Cerpenya beda-beda rasa tapi dengan inti yang sama, seperti judulnya novel ini punya inti sebuah kepergian cinta, dan semua cerpenya punya kesedihan tersendiri, bahkan cerpen pertama menceritakan kehidupan modern, kemudian yang kedua menceritakan sebuah adat, lalu ada yang bercerita tentang Legenda Ramayana, Legenda dari China, bahkan ada yang menggunakan bahasa zaman doeloe, sedikit membingungkan memang, ada cerita tentang pernikahan yang gagal, lalu ada cerita cinta kecil sampai besar yangg berakhir dengn ketidakbersatunya mereka. Mungkin terlihat mainstreem tapi tidak,  gaya penulisan Tere Liye memang keren dan menakjubkan.


Aku pernah mengunjungi sebuah blog yang membahas tentang kesederhanaan Tere Liye, biasanya dihalaman terakhir Novel ada rubrik "Tentang Penulis", tapi seingetku belum menemukan Tere Liye  menulis rubrik itu, dibeberapa novel dia hanya menulis kontaknya saja. mungkin dia ingin hanya menyalurkan bakat menulisnya saja. Sebenarnya kemana saja aku sampai tidak tau penulis ini, karyanya banyak yang best seller, bagus banget. Kenapa aku nggak menyadarinya coba?. Untuk novel-novel karyanya yang lain sebenarnya aku takut membacanya, padahal aku sudah menemukan banyak di rumah peminjaman buku, tapi aku selalu takut membaca novel dengan kemungkinann judul yang akan menguras air mata. Jadi aku belum membaca karyanya yang lain. Tapi aku sarankan untuk membaca novel-noverlnya karena penuh amanat yang membangun serta cerita yang bagus banggett.

Senin, 10 November 2014

Badai dalam Gerimis

Titik-titik air membasahi jendela, hari ini hujan turun untuk pertama kalinya, tidak terlalu deras. Hanya terlihat hujan gerimis yang tenang menyambut tanah.  Bau khas hujan sudah tercium dari beberapa jam yang lalu, bau hujan ini juga mengingatkanku pada kejadian hari itu. Hari itu aku berusia Sembilan tahun.
            Kali ini aku diperbolehkan bermain hujan diluar, dengan cekatan aku memakai jas hujan berwarna biru langit transparan. Aku berlari kecil menuju halama rumah, melompat pada genangan air kecil, terdengar suara tawa kecil dari dalam rumah, mungkin papa dan mama sedang bergurau dengan om dan tante. Aku masih meneruskan aktivitasku tadi, dengan ceria melompat kesana-kemari, dan ketika kakiku mulai lelah aku memutuskan untuk berhenti sebentar, mendongkak menatap langit yang gelap, kontras dengan warna jas hujanku. Dari Kejahuan, terdengar suara sirine polisi yang semakin mendekat. Aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi aku reflek berlari bersembunyi dibalik sebuah tembok, menunggu apa yang sedang terjadi. Polisi- polisi segera memasuki rumah, aku segera menggigit bibirku agar tidak berteriak ketika mendengar suara tembakan didalam rumah, kakiku terlalu lemas untuk berlari memasuki rumah. Beberapa saat kemudian hening sejenak, lalu polisi itu keluar sambil membawa ayah dan omku, aku melihat om berjalan terpincang-pincang dan darah segar menetes diatas tanah. Mobil itupun melaju dengan cepat meninggalkan rumah kami. Aku masih lemas, terduduk di tanah yang lembab akibat gerimis, berusaha untuk berdiri.
Aku tidak melihat tante dan mama keluar rumah, jadi aku putuskan untuk lebih memaksakan tubuhku berdiri dan menghampiri rumah. Suara decitan pintu membuatku merinding, ruang tamu yang setiap hari dibersihkan mama telah kacau balau, pecahan vas ada dimana-mana. Aku berjalan dengan langkah pelan mencari mereka, akhirnya aku menemukan mama dan tante tertunduk lemah di bawah kursi ruang makan, ada beberapa tetes darah disana. Mama mengangkat pelan kepalanya menatapku dengan wajah sendu serta senyum yang dipaksakan. Aku segera memeluknya. Dia mengelus rambut sebahuku sambil berkata semua akan baik-baik saja. Aku mengangguk pelan walaupun tidak yakin dengan ucapan itu. Aku menoleh ke arah tante yang tidak bergerak.
“Segera telepon ambulan Aile, nomernya ada di buku telepon itu” mama berkata sambil menunjuk telepon dan buku telepon. Akau menekan nomor telepon itu meminta mereka untuk datang segera.

Aku kehilangan tanteku, papa dan omku  dipenjara, mamaku  koma. Saat itu aku berusia Sembilan tahun.
by Ihda Rasyada
tbc

Please visit :)

www.indonesiadirectioners.blogspot.com