Titik-titik
air membasahi jendela, hari ini hujan turun untuk pertama kalinya, tidak
terlalu deras. Hanya terlihat hujan gerimis yang tenang menyambut tanah. Bau khas hujan sudah tercium dari beberapa jam
yang lalu, bau hujan ini juga mengingatkanku pada kejadian hari itu. Hari itu
aku berusia Sembilan tahun.
Kali ini aku diperbolehkan bermain hujan diluar, dengan
cekatan aku memakai jas hujan berwarna biru langit transparan. Aku berlari
kecil menuju halama rumah, melompat pada genangan air kecil, terdengar suara
tawa kecil dari dalam rumah, mungkin papa dan mama sedang bergurau dengan om
dan tante. Aku masih meneruskan aktivitasku tadi, dengan ceria melompat kesana-kemari,
dan ketika kakiku mulai lelah aku memutuskan untuk berhenti sebentar,
mendongkak menatap langit yang gelap, kontras dengan warna jas hujanku. Dari
Kejahuan, terdengar suara sirine polisi yang semakin mendekat. Aku tidak tau apa
yang akan terjadi, tapi aku reflek berlari bersembunyi dibalik sebuah tembok,
menunggu apa yang sedang terjadi. Polisi- polisi segera memasuki rumah, aku
segera menggigit bibirku agar tidak berteriak ketika mendengar suara tembakan didalam
rumah, kakiku terlalu lemas untuk berlari memasuki rumah. Beberapa saat
kemudian hening sejenak, lalu polisi itu keluar sambil membawa ayah dan omku,
aku melihat om berjalan terpincang-pincang dan darah segar menetes diatas tanah.
Mobil itupun melaju dengan cepat meninggalkan rumah kami. Aku masih lemas,
terduduk di tanah yang lembab akibat gerimis, berusaha untuk berdiri.
Aku
tidak melihat tante dan mama keluar rumah, jadi aku putuskan untuk lebih
memaksakan tubuhku berdiri dan menghampiri rumah. Suara decitan pintu membuatku
merinding, ruang tamu yang setiap hari dibersihkan mama telah kacau balau,
pecahan vas ada dimana-mana. Aku berjalan dengan langkah pelan mencari mereka,
akhirnya aku menemukan mama dan tante tertunduk lemah di bawah kursi ruang
makan, ada beberapa tetes darah disana. Mama mengangkat pelan kepalanya
menatapku dengan wajah sendu serta senyum yang dipaksakan. Aku segera
memeluknya. Dia mengelus rambut sebahuku sambil berkata semua akan baik-baik
saja. Aku mengangguk pelan walaupun tidak yakin dengan ucapan itu. Aku menoleh
ke arah tante yang tidak bergerak.
“Segera
telepon ambulan Aile, nomernya ada di buku telepon itu” mama berkata sambil
menunjuk telepon dan buku telepon. Akau menekan nomor telepon itu meminta
mereka untuk datang segera.
Aku
kehilangan tanteku, papa dan omku
dipenjara, mamaku koma. Saat itu
aku berusia Sembilan tahun.
by Ihda Rasyada
tbc

0 comments:
Posting Komentar